Etika Kebidanan dalam Kode Etik Bidan

Etika kebidanan menjadi pedoman bagi seorang bidan dalam berperilaku. Etika kebidanan ini mengatur tingkah laku bidan sehari-hari terutama pada saat memberikan pelayanan kebidanan. Bidan merupakan suatu profesi yang memiliki organisasi profesi. Organisasi profesi bidan tersebut adalah IBI atau Ikatan Bidan Indonesia. IBI atau Ikatan Bidan Indonesia ini membuat suatu kode etik yang dinamakan dengan kode etik kebidanan. Dalam kode etik kebidanan ini berisi tentang etika kebidanan yang dilakukan seorang bidan. Etika kebidanan ini tidak hanya mengatur hubungan bidan dengan kliennya, melainkan mengatur hubungan bidan dengan yang lainnya. Misalnya pengaturan hubungan bidan dengan teman sejawat lain, mengatur hubungan bidan dengan negaranya, dan sebagainya. Kode etik kebidanan ini harus dipatuhi oleh setiap bidan karena apabila kode etik ini dilanggar, maka bidan tersebut dapat terkena sanksi. Sanksi itu sendiri biasanya ditentukan dan diberikan oleh organisasi profesi bidan atau IBI.



etika kebidanan
Alat Kebidanan Gunting Tali Pusat


Etika Kebidanan dalam Kode Etik Bidan

Etika kebidanan dalam kode etik bidan tidak hanya mengatur bidan dengan orang lain, melainkan juga mengatur bidan dengan diri bidan sendiri. Misalnya saja seorang bidan harus bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan kebidanan. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat memberikan manfaat terhadap diri bidan itu sendiri sehingga seorang bidan harus bisa menambah ilmu pengetahuan dan keterampilannya. Apabila hal ini dipenuhi oleh bidan tersebut, maka bidan tersebut telah mematuhi etika kebidanan yang terdapat dalam kode etik bidan.

Di dalam kode etik bidan disebutkan bahwa bidan harus dapat menghargai terhadap hak dan martabat manusia, memperbaiki status diri sendiri, dan menopang pertumbuhan serta perkembangan hidup. Di sini mengandung makna bahwa dalam memberikan pelayanan kebidanan harus memerhatikan hak dan martabat dari pasien. Selain itu, hak dan martabat dari bidan sendiri pun harus dipertahankan oleh bidan itu sendiri.

Seorang bidan dalam bertingkah laku pun harus mengacu pada kode etik bidan. Bidan tidak selamanya dapat bekerja sendiri, terkadang bidan membutuhkan bantuan pada petugas kesehatan lainnya dalam memberikan pelayanan kebidanan pada pasien sehingga bidan harus dapat menghormati hak dan martabat dari teman sejawat lainnya. Selain itu, bidan juga dituntut untuk dapat bekerja sama dengan teman sejawat lainnya.

Bidan harus bisa menghormati pilihan kliennya. Contohnya saja pada saat penentuan jenis KB yang akan di pakai oleh pasien. Bidan bertindak sebagai konselor. Namun, tetap yang menentukan pilihan jenis kontrasepsi ialah klien atau pasien itu sendiri. Sebagai seorang bidan harus memberitahukan terlebih dahulu pengetahuan macam-macam alat kontrasepsi yang ada beserta keuntungan dan kerugiannya. Setelah pasien mengerti akan penjelasan yang diberikan, maka biarkan pasien memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan keinginannya dan kondisinya.

Etika kebidanan mengharuskan seorang bidan harus menghormati hak pasien, bidan juga harus menghormati teman sejawat lainnya. Terlebih lagi bila bidan bekerja secara tim atau kolaborasi. Bidan harus dapat menghormati hak dari teman sejawatnya. Apabila bidan sedang bekerja secara tim, bidan harus tahu batasan wewenangnya. Misalnya saja bidan bekerja sama dengan dokter untuk merawat ibu nifas yang mengalami komplikasi. Untuk perawatan sehari-hari dapat dilakukan oleh bidan, sedangkan untuk pemberian terapi atau obat dilakukan oleh dokter sehingga dengan etika ini, masing-masing berperan sesuai dengan fungsinya.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: bidandelima.wordpress.com


space iklan


Terima kasih untuk Like/comment FB :