Bidan Praktek Mandiri

Bidan praktek mandiri merupakan wujud dari upaya dalam menaggulangi angka kematian ibu dan bayi yang masih tergolong tinggi. Tingginya angka kematian ibu dan bayi dalam suatu negara mencerminkan bahwa di negara tersebut memiliki kualitas pelayanan kesehatan dibidang obstetrik yang belum baik. Angka kematian ibu yang biasa disingkat dengan AKI dan angka kematian bayi yang biasa disingkat dengan AKB merupakan tolak ukur terhadap keberhasilan pelayanan kesehatan khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kesejahteraan dan keselamatan ibu dan anak menjadi perhatian utama bagi profesi bidan khususnya. Sehingga salah satu cara untuk menanggulangi hal tersebut, bidan dapat mendirikan suatu pelayanan kebidanan yang dinamakan dengan bidan praktek mandiri.

Seorang bidan apabila telah mempunyai STR atau surat tanda registrasi dapat menjalankan perannya menjadi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Selain itu, bidan yang telah memiliki STR dapat mendirikan bidan praktek mandiri. Bidan praktek mandiri merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang dikelola oleh seorang bidan. Dalam membuat bidan pratik mandiri, seorang bidan perlu merencanakan segala persiapan yang berkenaan dengan pendirian bidan praktik mandiri seperti perencanaan tempat, perencanaan sarana, perencanaan prasarana dan lain sebagainya.


bidan praktek mandiri
Alat Kebidanan Partus Set

Perencanaan Mendirikan Bidan Praktek Mandiri

Seperti yang telah disinggung diatas, dalam mendirikan bidan praktek mandiri diperlukan perencanaan yang matang. Perencanaan tersebut dibuat sebagai upaya agar bidan praktek mandiri yang didirikan nanti dapat bermanfaat bagi masyarakat dan tentunya mendatangkan keuntungan tersendiri bagi bidan yang mendirikan bidan praktek mandiri. Perencanaan pertama dalam mendirikan bidan praktek mandiri ialah tempat praktek. Tempat praktek yang dipilih haruslah tempat yang strategis yang mudah untuk dijangkau oleh masyarakat. Jangan mendirikan bidan praktek mandiri di tempat yang sulit untuk di akses masyarakat sehingga masyarakat enggan berkunjung ke tempat kita. Tempat yang strategis dimaksud ialah tempat yang berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat.

Perencanaan mendirikan bidan praktek mandiri selanjutnya ialah perencanaan sarana dan prasarana yang mendukung pelayanan yang diberikan. Tentunya dalam mendirikan bidan praktek mandiri harus terdapat bangunan atau ruangan yang mencerminkan setiap pelayanan yang diberikan. Ruangan minimal yang harus ada dalam bidan praktek mandiri ialah ruangan periksa, ruangan bersalin, ruangan perawatan pascasalin, ruang tunggu, ruang pemrosesan alat bekas pakai, dan kamar mandi/WC. Setiap ruangan diatur sedemikian rupa dan diisi dengan perlengkapan seperti meja, kursi, tempat tidur dan lain sebagainya sesuai dengan nama ruangan tersebut. Selain itu, setiap ruangan harus mendapatkan pencahayaan dan ventilasi udara yang cukup. Atur setiap ruangan agar klien merasa nyaman. Kebersihan dapat menjadi faktor utama dalam menjaga kenyamanan klien.

Perencanaan mendirikan bidan praktek mandiri selanjutnya ialah melist peralatan yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kebidanan dan membelinya. Berbagai macam peralatan yang biasanya digunakan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Setiap daerah memiliki aturan terhadap standar peralatan yang harus dimiliki oleh bidan praktek mandiri. Peralatan yang dimaksud seperti partus set, hecting set, IUD set, dan lain sebagainya. Peralatan tersebut harus dipenuhi dan tersedia di bidan praktek mandiri.

Setelah sarana dan prasarana telah dipenuhi selanjutnya bidan yang akan mendirikan bidan praktek mandiri tersebut mengajukan permohonan izin pada dinas kesehatan setempat. Tapi sebelumnya apabila bidan tersebut belum menjadi anggota profesi maka harus daftar terlebih dahulu menjadi anggota profesi bidan. Baru kemudian bidan tersebut mengajukan permohonan ke puskemas wilayah kerjanya, dan dinas kesehatan setempat untuk memperoleh izin dalam mendirikan bidan praktek mandiri. Aturan dalam memperoleh izin tersebut pada setiap daerah akan berbeda, ada yang mewajibkan bidannya untuk melakukan uji atau asessment terlebih dahulu ada yang tidak. Bergantung pada kebijakan daerah masing-masing.



Oleh : Bidan Rina Widyawati
Sumber :
  • Permenkes 1464 tahun 2010 



space iklan


Terima kasih untuk Like/comment FB :