Aturan Penyimpanan Vaksin Polio

Imunisasi polio merupakan salah satu jenis dari imunisasi dasar yang terdapat di Indonesia. Karena merupakan imunisasi dasar, maka imunisasi polio merupakan imunisasi yang wajib dilakukan. Imunisasi tersebut memiliki tujuan untuk mencegah terjadinya penyakit polio. Dalam melakukan imunisasi polio vaksin yang dapat digunakan yaitu vaksin polio oral. Vaksin Polio Oral (OPV)  adalah  vaksin trivalen yang merupakan cairan berwarna kuning kemerahan yang biasanya dikemas dalam  vial gelas yang mengandung suspensi  dari tipe 1, 2, dan  3 virus Polio hidup  (strain Sabin) yang  telah dilemahkan. Vaksin Polio Oral ini merupakan suspensi  “drops” untuk  diteteskan   melalui droper (secara oral).

Vaksin polio digunakan  untuk melakukan pencegahan terhadap Poliomyelitis. Vaksin tersebut bekerja dengan cara merangsang   tubuh   membentuk  antibodi terhadap Poliomyelitis. Dalam pemberian vaksin polio terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :
  • Harus diberikan secara oral
  • Pemberian secara bersama-sama dengan vaksin hidup lainnya harus dilakukan secara terpisah
  • Perhatikan petunjuk pemakaian vaksin


aturan penyimpanan vaksin polio
 Alat Kebidanan Partus Set

Kandungan di Dalam Vaksin Polio

Pada umumnya, tiap dosis (2 tetes = 0,1 mL) vaksin polio mengandung :
Zat berkhasiat :
•Virus  Polio hidup  dilemahkan  (strain Sa- bin) tipe 1 ≥ 106.0   CCID50* tipe 2 ≥ 105.0   CCID50 tipe 3 ≥ 105.8 CCID50

Zat tambahan :
• Eritromisin tidak lebih dari 2 mcg
• Kanamisin tidak lebih dari 10 mcg
• Sukrosa 35 % (v/v) (sebagai zat penstabil)
*CCID50  = Cell Culture Infective Dose 50

Posologi

  • OPV hanya  diberikan  secara  oral. Diteteskan  langsung  ke dalam  mulut dari vial dosis ganda melalui droper sebanyak 2 tetes.
  • Hati-hati jangan sampai droper terkontaminasi dengan air liur anak yang di vaksinasi.
  • Bayi-bayi sedikitnya harus mendapatkan 3 dosis OPV dengan interval waktu 4 minggu pada usia 2 bulan.
  • Imunisasi ulangan diberikan 1 dan 3 tahun kemudian ; 1 dosis.

Efek Samping Vaksin Polio

Pada umumnya tidak terdapat efek samping yang disebabkan akibat dari pemberian vaksin polio. Sangat jarang terjadi kelumpuhan (paralytic poliomyelitis), yang diakibatkan karena vaksin (perbandingan 1 / 1.000.000 dosis). Individu yang kontak dengan anak yang telah divaksinasi, jarang sekali beresiko mengalami lumpuh polio (paralytic poliomyelitis) akibat vaksinasi (perbandingan 1 / 1.400.000 dosis sampai 1 / 3.400.000 dosis). Dan hal ini terjadi bila kontak belum mempunyai kekebalan terhadap virus polio atau belum pernah diimunisasi.

Kontraindikasi

  • Apabila sedang mengalami diare, dosis OPV yang diberikan tidak akan dihitung sebagai bagian dari jadwal imunisasi, dan harus diulang setelah sembuh.
  • Penderita leukemia dan disgamma- globulinemia.
  • Anak dengan infeksi akut yang disertai demam.
  • Anak dengan defisiensi sistem keke- balan.
  • Anak dalam pengobatan imunosu- presif.

Aturan Penyimpanan Vaksin Polio

Untuk menyimpan vaksin polio terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :

  • Potensi vaksin akan terjaga sampai dengan waktu daluarsa yang terdapat pada vial jika disimpan pada suhu tidak lebih dari -20°C. Dan hanya dapat disimpan selama 6 bulan pada suhu antara +2°C dan +8°C.
  • Masa daluarsa 2 tahun.

Penggunaan vaksin dalam vial dosis ganda yang sudah dibuka. Vaksin OPV dalam kemasan vial dosis ganda yang telah diambil satu dosis atau lebih untuk imunisasi dapat disimpan dan dapat digunakan untuk sesi imunisasi beri- kutnya sampai dengan 4 minggu, jika semua kondisi yang dipersyaratkan dipenuhi.



Oleh : Bidan Rina Widyawati
Sumber : 

  • biofarma.co.id



space iklan


Terima kasih untuk Like/comment FB :